RSS

Agar Si Kecil Berperilaku Baik di Tempat Umum

04 Nov

KOMPAS.com – Banyak pola tingkah anak usia 3-6 yang tak terduga dan kadang membuat orangtua “tak enak hati” dan malu bila dilihat orang lain. Orangtua pun merasa canggung karena terkesan lalai mengajarkan sopan santun atau etiket pada anak.

Imam Ratrioso, Psi, Psikolog dan Direktur Safaro Consulting Jakarta, menjelaskan kajian atau teori psikologi perkembangan menyebutkan anak usia 3-6 masuk kategori awal masa kanak-kanak sejak bayi hingga usia enam. Pada masa ini, bisa juga disebut sebagai dimulainya “masa sulit, masa bermain, masa usia bertanya, masa menjelajah, masa kreativitas”.

Merujuk pada teori tersebut, bila anak seperti terlihat membuat “malu” orangtua, entah itu menunjukkan perilaku mengamuk di depan orang banyak atau berbicara spontan yang dianggap kurang sopan, orangtua mesti melihatnya dari kacamata perkembangan anak. Bukan dengan paradigma konvensional seperti halnya kita sebagai orang dewasa.

Artinya, anak usia prasekolah memang belum bisa memahami secara sempurna konsep etika dan tata krama. Karena pada usia ini perkembangan kognitifnya masih berada pada taraf praoperasional. Jangan heran kalau kata-kata sopan atau etika atau tata krama bahkan sebuah kebaikan atau keburukan belum mampu dipahami dengan baik oleh anak usia ini. Karenanya penting bagi orangtua atau orang dewas untuk memahami tahap perkembangan anak ini.

Meski begitu, bukan berarti orangtua bersikap permisif dan membiarkan atau membolehkan apa pun yang dillakukan anak. Bagaimana pun etika dan tata krama harus diajarkan secara konsisten. Anda dapat mengajarkannya melalui ucapan dan tindakan serta contoh konkret.

Misalnya, kalau Anda ingin membiasakan anak membuang sampah pada tempatnya, maka sebagai orangtua Anda harus membuang sampak di tempatnya dan anak melihat langsung apa yang Anda lakukan. Pengajaran seperti ini dilakukan secara bertahap dan perlahan, sesuai dengan perkembangan dan kemampuan anak.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua agar si prasekolah dapat berperilaku baik di depan umum dan tak “membuat malu” orangtuanya:

* Orangtua menjadi role model.
Anak adalah peniru ulung. Oleh karena itu, tunjukkan bahwa orangtua pantas menjadi teladan bagi anak. Bagaimana cara Anda bersikap baik pada orang lain akan direkam oleh anak untuk kemudian ditunjukkannya dengan cara yang sama kepada orang lain.

* Bermula dari hal sederhana dan keseharian.
Lupakan cara mengajarkan tata krama, etika ataupun sopan santun lewat ceramah sampai mulut “berbusa”. Pasalnya, kemampuan dan pemahaman si kecil masih terbatas dan masih akan terus berkembang. Lebih baik mengajarinya lewat hal kecil dan sederhana dalam keseharian. Umpana, selalu ingat mengucapkan “terima kasih” ketika menerima sesuatu dari orang lain, mengucapkan “maaf” bila melakukan kekeliruan atau kesalahan, mengatakan “tolong” untuk meminta bantuan, atau mengucapkan “permisi” ketika hendak melewati orang lain. Begitu juga ajari anak untuk menyapa orang lain dengan sebutan yang baik, seperti Om, Tante, dan Kakak kepada orang yang lebih tua.

* Berikan reward.
Memberikan reward tidak melulu dalam bentuk hadiah. Sekadar ucapan pujian, elusan di kepala, acungan jempol, bahkan senyum yang Anda berikan atas perilaku baik anak dapat memotivasi anak untuk terus berperilaku sama. Jadi, jangan sungkan memuji anak.

 

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2012 in Parenting

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: