RSS

Jaman angon wedus

31 Jul

Sebagai warga pedesaan selain bertani, bercocok tanam, dan menyadap getah pinus untuk memenuhi penghidupan kebanyakan warga Semali juga beternak ala kadarnya, baik sambilan beternak unggas , kambing maupun sapi. Hampir setiap rumah khususnya di Semali bagian utara atau di dukuh Pesucen, setiap warga mempunyai hewan piaraan, walaupun kadang bukan hewan piaraan milik sendiri, misal titipan dari orang lain untuk di pelihara, biasanya dengan imbalan bagi hasil.

Untuk yang mempunyai hewan piaraan atau ternak sapi dan kambing dimusim-musim kemarau mencari rumput adalah hal yang dirasa berat, karena hampir semua lahan rumput baik di sawah, kebun dan hutan banyak mengering. Kebiasaan warga dan petani di desa kami di musim-musim banyak rumput tidak pernah membiarkan ternaknya keluar dari kandang, dengan senang hati mereka selalu mencarikan dan memberi makan langsung di kandang, jadi mereka mencari rumput setiap hari. Sungguh bahagianya menjadi sapi dan kambing di desa kami, karena di musim banyak rumput, kerjaannya hanya makan dan tidur aja di kandang penuh perawatan dan kasih sayang dari pemiliknya, apabila terlambat di kasih makan tinggal teriak, mbeee…dan hawwww untuk sapi…

Hanya di musim kemarau di saat susah cari rumput hewan ternak akan dilepas dari kandangnya untuk ikut cari makan sendiri, biasanya sapi dan kambing akan di bawa dan di lepas ke tempat2 yang masih kelihatan ada rumput-rumput ada dedaunan yang menghijau, atau akan di lepas di sawah atau masuk di hutan dengan penuh kontrol dan pengawasan untuk menghindari merusak tanaman, kecelakaan ataupun nyasar di hutan

Dulu sewaktu aku masih mempunyai kambing, setiap pulang sekolah selalu beramai mencari rumput bersama teman-teman. Di masa kecil kalau kita tidak mempunyai kambing atau sapi akan merasa malu, karena sepulang dari sekolah dirumah tidak akan punya teman bermain, hampir semua anak-anak di sekitar tempatku sepulang sekolah selalu pergi mencari rumput atau ngangon kambingnya, tempat bermain mereka adalah di sawah atau hutan di saat sedang mencari rumput dan ngangon piaraannya itu.

Disaat pulang sekolah dan sore hari suasana kampung akan sangat sepi dari anak-anak, justru yang rame adalah di sawah-sawah atau hutan tempat anak-anak ngangon dan cari rumput. Jadi kita tidak akan punya temen kalau kita ga punya hewan piaraan, kecuali kalau kita ikut pergi ngikut mereka merumput atau ngangon kambing. Jadi sewaktu aku kecil akan sangat bangga kalau punya kambing atau sapi, karena setiap hari kita akan punya temen bermain yang banyak dan senasib.

Untuk ngangon membawa kambing atau sapi ke sawah atau hutan terkadang kita harus melawati kali dan sungai yang mulai mengering, untuk melawati pinggir kali kita harus banyak berhati-hati mengarahkan jalannya kambing dan sapi, karena di saat kemarau sungai yang mengering banyak di manfaatkan warga untuk menjemur gaplek, krekel dan gadung, uhh baunya??? kalau kita tidak pintar mengarahkan piaraan kita bisa di bayangkan deh, jemuran mereka akan berantakan di injak-injak, dan ada hal lain lagi yang bisa bikin kita repot tapi kadang lucu, kambing ternyata adalah hewan yang sangat takut air, boro-boro di suruh mandi, melihat air aja langsung loncat-loncat lari menghindar, makanya kambing itu bau, soalnya kambing ga mau mandi, di tempatku kambing biasanya di panggil wedus: wedi adus dalam bahasa jawa atau artinya takut mandi, bagaimana dengan anda?? hehe

Banyak hal yang bisa kita lakukan sambil ngangon kambing, kita bisa smbil belajar, mengerjakan PR, mencari ikan di kali, main ketoprak, main perang-perangan, belajar menjadi tentara dll. Tidak lupa kita selalu membawa radio, karena kita tidak mau ketinggalan dengerin sandiwara radio, cerita dulu yang paling aku suka cerita Babad tanah leluhur, Tutur Tinular, nini pelet dll, selain sandiwara radio kita juga selalu mendengarkan ceramahnya alm. Zainudin MZ. jadi selain ilmu ngangon kambing dan pelajaran sekolah, sambil ngangon kita juga mendapatkan ilmu tambahan sejarah dari sandiwara radio dan sedikit ilmu rohani dari ceramahnya bpk Zainudin. Di kala itu radio yang paling top kita dengerin adalah RRI Purwokerto, Radio SKB (Swara Karang Bolong Gombong) dan radio Bima Sakti Kebumen, kalau batu baterai radio sudah mau habis kita ga ketinggalan akal, batu batre akan kita jemur dulu di pinggir kali bareng bersama gaplek gadung dkk.

Begitulah gambaran wawasan dan pendidikan yang kami miliki sebagai orang yang dilahirkan dan di besarkan di kampung, sehingga susah untuk bisa ikut memajukan negeri ini.

 
2 Comments

Posted by on July 31, 2011 in Kehidupan, Umum

 

2 responses to “Jaman angon wedus

  1. Tri Juniarto

    September 9, 2011 at 9:02 am

    Mantap lur…the nice story…I miss it…

     
  2. wong semali

    October 27, 2011 at 9:12 am

    hehe.. story indah cilikan nang ndesa, priyatin…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: